Antara Ego dan Opini

Jiwa setiap mainusia memang terkadang aneh. Namun itulah yang menjadikannya unik dan istimewa. banyak dari kita membuat perilaku seperti halnya apa yang diinginkan oleh orang sekitar kita, tapi apakah benar jiwa kita membutuhkannya.
Setiap kepastian tidak datang begitu saja, dan ketika datang terkadang kita bingung harus berbuat apa. Sebuah pemikiran yang murni harus didatangi dengan penuh keagungan agar kita mendapatkan sebuah ketenangan jiwa.
Manusia adalah merupakan kumpulan emsosi yang membawanya pada titik yang ia sebut perspektif diri. Dari sana akan ada rupa yang mengakarkan serta mendekatkan  wujud itu pada sebuah perilaku yang disebut dengan bunga keadilan yang akan terus tumbuh sebagai wujud kebaikan akan diri kita sebagai mahkluk.
Bayangkan saja bila diri kita mulai kehilangan jati diri sebagai bentuk kekasaran kita pada jiwa kita sendiri.
Bagaimana hal demikian akan bisa kita sebut dengan kebahagiaan. Mari mencoba menyelami lebih dalam bagaimana seusungguhnya wujud emosi yang kita miliki. akankah merujuk pada sebuah ego atau opini itu sendiri.
Ego tak selamanya membawa dampak buruk karena ada waktu dimana kita harus menuruti sebuah nafsu untuk mencapai titik yang paling tinggi dari sebuah perilaku hidup dengan cara merenung dan bermuhasabah tentang apa yang kita lakukan apakah memberikan manfaat atau mudharat. Banyak dari kita adalah refleksi orang lain sehingga enggan untuk melakukannya, karena kita ingin mengucapkan dengan membusungkan dada bahwasannya "aku adalah..."
namun, titik puncak itu hanya bisa kita gapai dengan melepaskan segalanya. karena keinginan dan hasrat egoisme itu akan melebur dalam ego itu sendiri. Bukan dengan jalan mempertebal opini hidup, yang seringkali menghadirkan kesepian dalam keramaian, kebinasaan dalam keadaan dan juga kejauhan dalam kedekatan.
Bayangkan saja kalau manfaat dari kita adalah angin. bukan pada seberapa nampak dan kuatnya diri kita akan tetapi bagaimana kita memberikan kebutuhan tanpa harus menunjukan.
Bunga-bunga itu akan terus abadi dan semakin dalam mengakar pada laksana yang tereduksi dari sebuah benih kesabaran.

Malang, 21/2/2017
Fath Fauzan

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama