
“Pernahkan kamu bertanya tentang
tujuan sebuah perkuliahan, apakah kita kuliah untuk mengejar sebuah indeks
prestasi komulatif /nilai/hasil penilaian?”
Dalam era 80-an mungkin hal ini
dapat dibenarkan karena memang ada sebuah proses yang amat luar biasa harus
dilakukan oleh seorang mahasiswa. Dari sekadar mencari referensi hingga berburu
buku dan membacanya hingga selesai, walau memang sangat tak mudah mencari
referensi dan buku pada masa tersebut, kecuali memiliki relasi dan rekanan.
Mengapa demikian? Karena era 80-an sumber buku masih terbatas dan toko buku
hanya dapat diakses oleh kalangan berduit. Selain harganya yang mahal juga
jumlahnya yang tak sebanyak era kini. Namun sudahlah tak perlu panjang lebar
membahasanya.
Akan sangat lucu kalau hal
tersebut terjadi pada era digital. Dimana sumber informasi sangat terbuka ldan
bebas diakses oleh siapapun. Bahkan tak jarang kita menemui mahasiswa yang
lebih paham dari pada dosesn yang bergelar tinggi sekalipun.
Jadi, apa sebenarnya tujuan kita
kuliah kalau sumber informasi itu sudah bias kita temukan hanya berbekal smarthphone dan internet. di sanalah
kita sebagai mahasiswa akan ditempa dalam wujud proses di luar perkuliahan
yakni pencarian identitas. Karena identitas akan membawa k earah mana tujuan
kita sebenarnya.
Namun banyak dari mahasiswa yang
masih berpikir bahwa IPK menjadi hal mutlak penentu keberhasilan. Sebagai
contohnya ada beberapa teman saya sesame mahasiswa sampai rela menyapu ruangan
dosen, membawakan buku hingga bersikap manis di depan para dosen untuk
mendapatkan IPK yang memuaskan. Akan tetapi, untuk saya tidak demikian,
mengapa? Karena hal tersebut justru merendahkan harga diri kita sebagai
mahasiswa dan menghilangkan jatidiri kita sebagai kaum penggerak.
Disaat teman saya sibuk melakukan
hal tersebut, saya justru lebih sering bolos kuliah dan lebih sering mengikuti
kegiatan sastra dan pementasan teater. Kadang juga kegiatan seni budaya bersama
salah seorang dosen atau teman di luar kampus. Sesekali mojok di perputakaan
menikmati bacaan sastra atau buku diluar bidang yang saya kalau sedang bosan.
Dan apa yang terjadi? Saat rekan
saya kebingungan membuat konsep atau porsi pengabdian masyarakat berbau sastra,
atau kelimpungan mencari pembicara untuk beberapa kegiatan. Disana saya tak
harus kebingungan, karena dari beberapa kegiatan yang saya ikuti atau diskusi
kesustraan tentang karya tulis seperti D. Zawawi Imron, Ahmadun Y. Herfanda,
Dr. Free Herty dan beberapa penulis muda telah memperkenalkan saya langsung dengan
beliau-beliau. Atau saat rekan saya mencari sebuah konsep pementasan untuk
tugas mata kuliah. Saya sudah asyik mentas di Gedung kesenian Bersama dosen dan
rekan-rekan saya.
Dan percayalah IPK saya tak
sejelek mereka yang harus mengikuti perkuliahan secara serius atau harus
terdiam saat harus berbicara di depan umum. Lahi-dan lagi identitas mahasiwa
yang selama ini dibanggakan bukanlah saat kita mengejar IPK namun
mempertahankan jati diri dengan berbagai keahlian di luar perkuliahan.
Jangan pernah takut untuk melawan
arus,walau terkadang cemoohan itu datang secara bertubi-tubi dari orang di
sekitarmu bahkan dari dosen kalian sendiri. Kenapa? Karena mereka terlampau
asyik berkutat dengan teori-teori klasik era dulu. Di mana mahasiwa harus
mendengarka “ceramah” saat perkuliahan, dan tak menutup kemungkinan hal itu
yang akan kalian lakukan pada siswa kalian ketika mengajar, sampai-sampai siswa
kalian banyak yang tertidur karena guru hanya mencekoki siswanya dengan materi
dan pr.
Maka jadilah mahasiswa bukan “tukang
kuliah” yang mengejar IPK demi kebanggaan tanpa memperkuat kemampuan kalian di
luar bidang yang kalian ampuh.
Posting Komentar