Di sebuah sekolah menengah yang terletak di pinggiran kota, terdapat dua jiwa yang terpisah oleh lebih dari sekadar jarak fisik. Rian, seorang siswa pekerja keras dengan hati yang penuh impian, selalu duduk di sudut kelasnya, memperhatikan sosok cantik bernama Naya, yang duduk di barisan depan. Rian mengagumi Naya dari jauh; senyumnya yang ceria dan semangatnya yang tak terbendung membuat jantungnya berdegup kencang. Namun, meski mereka berada dalam satu ruangan yang sama setiap hari, dinding-dinding ketidakpastian dan rasa malu memisahkan mereka.
Rian adalah tipe siswa yang lebih memilih berbicara melalui buku dan catatan daripada melalui kata-kata di depan orang lain. Dia percaya bahwa jika Tuhan mengizinkannya, cinta ini bisa tumbuh meski hanya dalam bayangan. Naya, di sisi lain, adalah bintang di antara teman-temannya, aktif dalam berbagai kegiatan dan dikenal karena kepeduliannya. Namun, dia tak pernah menyadari perjuangan di dalam hati Rian.Setiap hari, Rian berdoa agar bisa memiliki keberanian untuk mendekati Naya. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang disukai Naya, apa yang menjadi impiannya, dan mungkin, membagikan kebahagiaan kecil yang dia miliki. Namun, saat setiap bel sekolah berbunyi, Rian selalu mundur ke dalam shell-nya, hanya bisa menyaksikan Naya berbicara dan tertawa dengan teman-temannya.
Suatu hari, saat jam istirahat, Rian duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah. Dia membuka buku catatan dan mulai menggambar sketsa Naya, menggambarkan senyumnya yang bersinar. Saat dia melukis, dia tidak menyadari bahwa Naya sedang berjalan menuju arah yang sama. Ketika Naya melihat Rian, hatinya bergetar. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda tentang pemuda yang sering ia lihat, tetapi tidak pernah berbicara.
“Rian,” panggil Naya lembut, suaranya seolah menyentuh jiwa Rian. Rian terloncat kaget dan wajahnya memerah. Dia belum pernah mendengar namanya terpanggil dengan cara itu sebelumnya.
“Eh… ya?” jawab Rian, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Naya melangkah mendekat, “Aku lihat kamu selalu menggambar. Apa kamu mau menunjukkan padaku?”
Rian, terkejut namun bahagia, mengangguk. Untuk pertama kalinya, mereka berbagi momen. Rian menunjukkan sketsanya—gambar Naya yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Naya terpesona dan mengagumi bakat Rian yang tersembunyi. Dalam detik-detik itu, Rian merasakan harapan baru; mungkin, jarak yang selama ini terasa begitu besar dapat surut sedikit.
Namun, ketika bel kembali berbunyi, mereka harus kembali ke dunia masing-masing. Rian kembali ke sudutnya, sementara Naya melanjutkan kisahnya di barisan depan. Meski demikian, ada jendela kecil yang terbuka antara keduanya—sebuah janji bahwa mereka akan saling mengenal lebih dalam.
Hari-hari berlalu, dan mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Rian kini lebih berani, berusaha mengambil langkah-langkah kecil untuk mendekati Naya, seperti mengobrol ringan sebelum dan sesudah pelajaran. Di sisi lain, Naya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Rian, melampaui penampilannya yang pendiam.
Akhirnya, meskipun masih terpisah oleh jarak yang tidak bisa diabaikan, mereka belajar untuk saling mendukung dan menghargai satu sama lain. Rian berdoa dengan harapan yang tak pernah padam, dan Naya menemukan kebahagiaan dalam persahabatan yang berkembang. Cinta mereka mungkin dimulai dari kejauhan, tapi dalam semangat dan doa, mereka membuktikan bahwa kadang-kadang, cinta yang tulus mampu menjembatani segala perbedaan.

Posting Komentar