Di ujung masa jenuh melanda
Lalu semut-semut merah
Itu terus bercerita
Hingga menukil setangkai rasa
Entah siapa punya
Tunggu saja sejenak
Hingga detik masa-
bergulir dalam benak
Raut wajahmu
Aroma tubuhmu
Musim pun kian layu
Tunduk mengatup pilu
Aduh mama...
Sesak pilu terisak
-di lajur kiri yang berkerak
Kau
Aku
Kau
Aku
Kau
Aku
hitam rambut berdesir
bertemu laksana ribuan pasir
Berbisik pada bunga-bunga
Dari sendu angin tadi malam
Ah.....
Sudahlah.... Aroma tubuhmu
Kini tak berjejak
Sisakan saja bisikan pemilik rindu
Tuan dan nyonya
Mamak dan bapak
Pun susup mata sang anak
Menikam rasuk pada epos kelam
bersama
Tanda...
Rasa...
Partikelir cinta...
Di ujung taman gersang
Akankah jauh dipandang
sedang,
Malam tak pernah mati
di sebermula
Raut cahaya
Menyusun kata perang
Ah mama....
Apaka rindu masih sesedap aroma dapur...
Pun penganutnya
Fath_
nb: untuk bunda yang senantiasa membalur ananda dengan semangat
Lalu semut-semut merah
Itu terus bercerita
Hingga menukil setangkai rasa
Entah siapa punya
Tunggu saja sejenak
Hingga detik masa-
bergulir dalam benak
Raut wajahmu
Aroma tubuhmu
Musim pun kian layu
Tunduk mengatup pilu
Aduh mama...
Sesak pilu terisak
-di lajur kiri yang berkerak
Kau
Aku
Kau
Aku
Kau
Aku
hitam rambut berdesir
bertemu laksana ribuan pasir
Berbisik pada bunga-bunga
Dari sendu angin tadi malam
Ah.....
Sudahlah.... Aroma tubuhmu
Kini tak berjejak
Sisakan saja bisikan pemilik rindu
Tuan dan nyonya
Mamak dan bapak
Pun susup mata sang anak
Menikam rasuk pada epos kelam
bersama
Tanda...
Rasa...
Partikelir cinta...
Di ujung taman gersang
Akankah jauh dipandang
sedang,
Malam tak pernah mati
di sebermula
Raut cahaya
Menyusun kata perang
Ah mama....
Apaka rindu masih sesedap aroma dapur...
Pun penganutnya
Fath_
nb: untuk bunda yang senantiasa membalur ananda dengan semangat

Posting Komentar