Di sebuah kantor kecil yang terletak di tengah hiruk pikuk kota, ada seorang karyawan bernama Rama. Ia dikenal sebagai sosok yang rajin, cerdas, dan selalu membantu rekan-rekannya tanpa pamrih. Namun, bagi sebagian orang, kelebihan Rama justru menjadi ancaman.
Pagi itu, Rama datang lebih awal seperti biasanya. Dengan secangkir kopi di tangan, ia menyapa satu per satu rekan kerjanya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Pandangan beberapa orang tampak dingin. Bisikan-bisikan kecil terdengar samar saat ia melangkah melewati meja mereka.
“Eh, katanya dia cuma pura-pura baik, lho. Supaya dinilai bagus sama bos,” bisik seorang rekan, Nina, kepada temannya, Dimas.
Rama, yang mendengar sepintas bisikan itu, hanya tersenyum tipis. Ia tahu tidak semua orang menyukainya, tapi ia tak pernah menyangka akan menjadi sasaran bisikan seperti itu.
Beberapa hari kemudian, Rama dipanggil oleh atasannya, Pak Arif. Di ruangannya, Pak Arif menyodorkan laporan yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam salah satu proyek yang dikerjakan tim Rama.
“Rama, saya dapat laporan kalau ini semua karena kesalahan kamu. Benar begitu?” tanya Pak Arif dengan nada datar.
Rama tertegun. Ia tahu proyek itu sudah ia kerjakan dengan teliti. Ia bahkan menghabiskan beberapa malam untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
“Maaf, Pak, tapi saya rasa ada kesalahan informasi. Saya bisa periksa ulang dokumennya jika Bapak mau,” jawab Rama tenang.
Namun, rumor yang beredar di kantor sudah terlanjur mengaburkan kebenaran. Beberapa rekan kerjanya, termasuk Nina dan Dimas, mulai menyebarkan cerita-cerita tentang bagaimana Rama sering “melangkahi” mereka dalam tim, mengklaim hasil kerja orang lain, dan bahkan sengaja membuat kesalahan agar terlihat penting.
Setiap kali Rama mencoba menjelaskan, kata-katanya tenggelam dalam bisikan-bisikan penuh racun yang menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Lama-kelamaan, Rama merasa seperti seorang pesakitan di pengadilan tanpa hakim yang adil.
Satu sore, saat kantor sudah mulai sepi, Rama duduk sendirian di mejanya. Ia menatap layar komputernya yang masih menyala, mencoba mencerna semua yang terjadi. Ia tidak pernah menyangka, di tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk bekerja dan berkembang, justru menjadi medan perang penuh intrik.
Di sisi lain, Nina dan Dimas merasa puas. Mereka pikir, dengan menyingkirkan Rama, peluang mereka untuk mendapatkan perhatian Pak Arif akan lebih besar. Tapi mereka lupa, karma punya cara kerja sendiri.
Suatu hari, Pak Arif mengundang seluruh tim untuk rapat darurat. Di hadapan semua orang, ia mempresentasikan hasil audit independen yang dilakukan terhadap proyek tersebut. Hasilnya? Kesalahan bukan pada Rama, melainkan pada Dimas yang salah memberikan data awal.
“Saya kecewa karena ada yang mencoba menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahannya sendiri,” kata Pak Arif tajam. Nina dan Dimas menundukkan kepala, wajah mereka memerah.
Setelah rapat itu, Rama tidak langsung merasa lega. Luka dari tuduhan-tuduhan palsu itu tidak mudah hilang. Namun, ia belajar untuk tetap berdiri tegak. Kabut di meja kerjanya perlahan memudar, meninggalkan pelajaran penting: kejujuran mungkin tidak selalu menang dengan cepat, tapi ia tak pernah kalah.
Dan bagi mereka yang gemar menjilat, mungkin saat ini mereka tersenyum licik. Tapi pada akhirnya, seperti pasir di tangan, kepalsuan mereka akan hilang tanpa bekas.


Posting Komentar