Topeng di Balik Meja Kantor

 Dinda adalah bintang bersinar di kantornya. Baru dua tahun bekerja, ia sudah membawa klien besar dan menghasilkan inovasi yang mendongkrak reputasi perusahaan. Tapi sinar terang seringkali menarik bayangan gelap.

"Gila sih, Dinda itu. Semua kerjaan kayak disedot ke dia," gumam Ayu di pantry suatu pagi. Nada suaranya datar, tapi matanya menelisik, memastikan bahwa rekan-rekannya menangkap sindiran itu. Beberapa orang mengangguk, ragu. Ayu adalah senior di kantor itu. Karismanya lebih terbangun oleh usia ketimbang hasil kerja.

Kabar bahwa Dinda "mengambil semua sorotan" mulai tersebar. Tapi Dinda? Ia tetap sibuk seperti biasa. Baginya, kerja keras adalah cara untuk bertahan. Sebagai anak dari keluarga sederhana, Dinda tahu arti perjuangan. Ayu tahu itu juga — dan justru itulah yang membuatnya tidak nyaman.

“Kamu tahu nggak, katanya Dinda sering lembur? Tapi kok ya selalu pas ada Pak Arman, ya?" Ayu berbisik kepada Nina, rekan kerjanya. Nina, yang sebenarnya tidak terlalu peduli, hanya mengangguk setengah hati. Bisikan itu bagai ular yang merayap di ruang kantor. Tak lama, muncul rumor bahwa Dinda “dekat” dengan atasannya demi mendapat perhatian lebih.

Ayu adalah maestro bermain peran. Di depan Dinda, ia selalu tersenyum lebar. "Din, kamu keren banget sih! Aku sampai minder lihat kerjaanmu," katanya suatu hari. Dinda hanya tertawa kecil. Ia tidak terlalu suka basa-basi, tapi ia menghormati Ayu sebagai senior.

Namun, suasana mulai berubah. Rekan kerja yang dulu sering mendukungnya kini terlihat dingin. Beberapa tugas penting yang biasanya ia pegang mulai dialihkan ke orang lain. Dinda tidak mengerti apa yang terjadi, sampai ia mendengar Nina berbicara di pantry.

“Kita ini kerja buat tim, kan? Tapi Dinda tuh kayak lupa. Semua proyek kayak mau dia sendiri yang garap," kata Nina. Dinda yang mendengar dari balik pintu merasa dadanya sesak. Dia ingin membantah, tapi langkahnya tertahan. Kata-kata itu seperti duri yang menusuk, menyakitkan karena ia tahu itu tidak benar.

Hari-hari berlalu dengan beban berat di pundaknya. Prestasi yang dulu menjadi kebanggaan kini terasa seperti kutukan. Ayu, dengan lihainya, berperan sebagai korban. "Aku sih senang Dinda rajin, tapi kok ya kayaknya dia lupa kalau kita ini tim," katanya kepada Pak Arman di suatu rapat.

Pak Arman, yang pada awalnya percaya penuh pada Dinda, mulai terpengaruh. Ayu tahu cara membingkai cerita dengan sempurna: sebagai rekan yang merasa terpinggirkan oleh ambisi Dinda.

Puncaknya terjadi pada presentasi besar di depan direktur. Dinda, seperti biasa, mempersiapkan segalanya dengan rinci. Tapi, di tengah presentasi, Ayu memotong dengan pertanyaan yang membuatnya terdiam. "Dinda, ini data dari mana ya? Kok kayaknya nggak sinkron dengan laporan minggu lalu?" katanya dengan nada lembut, tapi cukup untuk membuat direktur mengernyit.

Dinda mencoba menjelaskan, tapi rasa panik membuat pikirannya kacau. Presentasi itu berakhir dengan suasana tegang. Setelah rapat, Ayu dengan sigap mendekati direktur. "Mungkin Dinda terlalu terbebani. Dia memang hebat, tapi saya khawatir dia terlalu memaksakan diri. Kita semua butuh istirahat, kan?" katanya penuh simpati palsu.

Tak lama, Dinda dipindahkan ke proyek yang kurang strategis. "Kita hanya ingin kamu fokus," kata Pak Arman saat memberitahunya. Dinda tersenyum pahit. Ia tahu, itu bukan tentang fokus. Itu tentang permainan yang tak pernah ia ikuti.

Di sudut lain kantor, Ayu tersenyum tipis di depan cangkir kopinya. Ia menang, setidaknya untuk saat ini. Dinda mungkin masih bersinar, tapi Ayu tahu cara membuat cahaya itu meredup di mata orang lain.

Namun, yang tidak Ayu sadari, kebenaran selalu menemukan jalannya. Dan topeng, seberapa pun kuatnya, suatu saat akan retak.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama