Laila



Masihkah kau ingat saat kau tampar mukaku dengan buku itu, sejak saat itulah piker dan jiwaku seakan enggan berpaling dari puisi. Hari demi hari ku rasakan bahwa sebuah perjalan spiritual yang menuntun ragaku berjalan beriringan dengan hasrat yang kian dalam menjajah tiap malamku dengan kata-kata yang terus menghujam pikirku. Semakin lama…semakin luas…dan semakin menjebakku dalam fatamorgana yang tak mau terlepas.
“Apakah ini..?”
Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat ini. Dan terus berlarian bagi debu yang beterbangan diterpa oleh angina pagi ke segala penjuru alam semesta. Jika saja ada yang mampu merasakan segala yang telah terlewati maka akupun rela untuk menghamba kepadanya.
Bayangkan saja bila matahari sekecil bola lampu, dan semua berebut akan sinarnya. Entah sebrutal apa para manusia saat ini. Mungkinkah masih ada yang disebut cinta di dalam dunia.
Wujud dari apa yang ku pertanyakan, sebagai perjalanan yang tak pernah berakhir menampar segalanya atas apa yang selama ini orang lain pertanyakan padaku.
“tuhan mengapak kau ciptakan dua buah hal yang menimbulkan hasrat bagi manusia?”
Jika aku adalah malam maka akan kugelapkan seisi dunia serta hati para manusia agar semua orang dalam kekosongan. Karena dalam kekosongan itulah sebuah kejernian hadir bukan sekadar menciptakan fatamorgana yang ada di antaranya.
Tak terasa sorepun mengantar senja yang menawan dan penuh kerinduan. Aku menabrak waktu yang kian lama berlalu. Sore itu Laila menyapa dengan senyumnya. Aku hanya terpaku dan membatu. Dalam benakku aku bercerita tentangnya
“oh Laila, benarkah ini dirimu. Yang semalam mendesah dan menyisakan ribuan tanya atas kerinduan yang kau cipta?”
”mungkinkah semua hanya huru-hara semata dari ketidak sengajaan, atau pelarian dari kenyataanmu”
“ah, sudahlah” pikirku. Semua sudah terjadi dengan bergitu eksotis dan romantis.

Fath Fauzan
 

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama